Selasa, 10 Februari 2015

Dieng

          Liburan akhir pekan dengan keluarga besar 12 orang menggunakan mobil sewaan pergi ke Dieng Wonosobo. Dipilihnya Dieng karena sebagian besar anggota keluarga belum pernah ke Dieng, pergi ke tempat dengan ketinggian yang hanya 112 mdpl ( Meter Dari Permukaan Laut ) ke ketinggian 2000 mdpl. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk berlibur karena baru musim penghujan apalagi ke Dieng daerah gunung dengan ketinggian seperti itu pasti sering turun hujan. Berangkat dari rumah jam 7 pagi, perjalanan mulai menanjak setelah melewati Temanggung pemandangan kiri kanan jalan menyegarkan dikiri ada gunung Sindoro kanan jalan gunung Sumbing, berjalan membelah gunung. Jalan semakin terjal setelah melewati kota Wonosobo, kabut mulai tampak. Di sepanjang jalan ini ada beberapa mobil mogok ditengah jalan, " Jangan nyalakan Ac, mobil akan kepanasan dan pasti akan mogok " kata sopirku. Waktu adzan Dhuhur ahkirnya kami tiba di Dieng, tak terasa hampir 5 jam kami menempuh jarak sepanjang 112 Km. 
          Kami langsung menuju Komplek Candi Arjuna, hawa agak dingin bertiup begitu turun dari mobil cuaca agak mendung, didekat pintu masuk banyak warung makanan, yang menjual tempe kemul dan kentang goreng.  Komplek ditata dengan bagus hijau pepohonan tampak mengelilingi bangunan komplek Candi Arjuna. Candi ini mirip dengan candi yang ada di India, konon inilah candi tertinggi tempatnya dan tertua di Indonesia, dibangun pada abad ke 8 oleh raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu.  Bisa dibayangkan bagaimana para pendeta ini sampai ke sini, pasti mereka bukan orang sembarangan, mobil saja mogok. Menembus alas gung liwang liwung, harimau jawa masih banyak berkeliaran , belum lagi suhu di Dieng bisa mencapai 0° C, penjelajah spritual sejati.
         Hujan mulai turun, kami menuju kawah Sikidang bau belerang menyengat, terpaksa membeli masker 500 ribu dapat 3. Disini saya membeli kentang ungu sekilo 15 ribu, aku beli 0,5 kg, ternyata setelah dikukus warna kulitnya berubah menjadi putih, dagingnyapun berwarna putih. Barangkali kentangnya diwarnai, karena seperti ubi ungu kulit dan dagingnya berwarna ungu ini tidak jadi berhati-hati kalau beli kentang sebagai info kentang biasa sekilo harganya 5-6 ribu. Hujan semakin deras rencana ke telaga Warna batal ahkirnya kami putuskan pulang. Tetapi Dieng meninggalkan rasa penasaran kabut misteri masih menyelimuti, apa yang ada dibenak para pendeta ketika memutuskan membuat candi disini, jalur mana yang dilewati, kendaraan apa yang dinaiki, andai saja kata -kata bisa memfosil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar